Ayah, tahu tidak?
Aku memendam rindu, untukmu.
Ayah, dengar tidak?
Aku menyebut namamu, dalam do'aku.
Ayah, bagaimana sekarang? Nyaman tidak?
Ayah, ditempat seperti apa sekarang? Adakah bidadari?
Ayah, kau harus tahu!
Kami, disini, kami bermunajat agar kau lebih baik, disana.
Ayah, disini, jumpa kita telah usai.
Tak akan pernah ada lagi canda tawa fana.
Sudah selesai, kau telah berhenti pada titik itu.
Ayah, semoga kau bahagia.
Berkumpul ditaman surga bersama para kekasih Allah.
Ayah, segunung rindu, seribu harap untuk bersua biar jadi rahasia kita.
Semoga Tuhan mengabulkannya, semuanya.
Hingga kita dapat kembali berjumpa, penuh tawa.
Kamis, 09 Mei 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Ta'aruf VS Pacaran.
Bismillah....
Taaruf? Ayo, siapa diantara
kalian yang tidak tahu apa itu ta'aruf?
Saya yakin, sahabat-sahabat
pembaca blog saya paham apa arti dari ta'aruf itu sendiri, InsyaAllah.
Ikhwah fillah yang dirahmati
Allah, tanpa mendahului dan merasa lebih pintar sedikitnya saya akan
menjelaskan apa makna dari ta'aruf.
Ta'aruf secara umum diartikan
sebagai sebuah proses perkenalan. Perkenalan seperti apa? Karena perkenalan itu
sendiri luas. Jika dilihat dari sudut pandang umum, tentu layaknya
perkenalan satu invidu dengan individu lain sehingga dapat bergaul dan hidup
dalam satu lingkungan yang bermasyarakat. Sejak lahir hingga saat ini pun tanpa
disadari kita telah melakukan ta'aruf dengan banyak orang. Ingat, saat pertama
kali kita masuk TK? Kita memperkenalkan diri didepan kelas menyebutkan nama,
cita-cita dan bernyanyi! Yup, lucu sekali. Lalu hari-hari kita berikutnya
dihiasi dengan mulai berbincang-bincang dengan teman satu kelas, main
boneka-bonekaan, main mobil-mobilan dan aktifitas-aktifitas yang umumnya dilakukan
anak-anak. Tidak hanya itu, ketika masa orientasi siswa SMP-SMA-Universitas.
Bukankah setumpuk kegiatan itu adalah salah satu proses ta'aruf? Ya, tepat
sekali. Dan berbagai contoh lain yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu.
Tapi, bagaimana pengertian
ta'aruf dalam arti sempit? Yuk merapat! hehehe.
Sekali lagi ikhwah, tanpa
bermaksud menggurui saya akan sedikit mengurai makna ta'aruf secara khusus,
InsyaAllah.
Ta'aruf dalam pandangan khusus
adalah satu proses yang dilakukan oleh dua orang, yakni laki-laki dan perempuan
untuk tujuan menikah. Sekali lagi, tujuan menikah ya. Ta'aruf untuk mereka yang
berniat menikah tidak abu-abu atau hitam di atas putih tapi jelas! Kalau hitam
ya hitam, kalau putih ya putih. Kenapa saya katakan demikan? Karena banyak dari
saudara-saudara kita yang mengatasnamakan ta'aruf sedang dalam aplikasinya jauh
dari apa yang telah disyari'atkan dan sama sekali tidak bertujuan untuk
menikah.
Sungguh ikhwah, ta'aruf jauh
berbeda dengan apa yang biasa kita sebut pacaran. Pacaran adalah satu hubungan
yang tidak terikat namun melegalkan segalanya dan sama sekali tidak diridhoi
oleh Allah SWT, dalam Al-qur'an Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu
mendekati zina. Sesungguhnya zina itu aalah suatu perbuatan yang keji dan suatu
jalan yang buruk" (QS. Al-Isra (17) : 32)
Lantas ababil (ABG labil)
berujar, "Pacarannya gak ngapa-ngapain kok".
Haish, haish, ssssstttt! Stop membantah. Firman Allah itu jelas. Awalnya mungkin gak ngapa-ngapain tapi nanti bisa di apa-apain loh! Kan sudah jelas, zina nya mata itu memandang, hidung mencium,hati berangan-angan, tangan memegang, dan kemaluan melakukan zina tubuh. Nah loh! Apa iya orang yang pacaran gak pandang-pandangan? Gak pegang-pegangan?
Haish, haish, ssssstttt! Stop membantah. Firman Allah itu jelas. Awalnya mungkin gak ngapa-ngapain tapi nanti bisa di apa-apain loh! Kan sudah jelas, zina nya mata itu memandang, hidung mencium,hati berangan-angan, tangan memegang, dan kemaluan melakukan zina tubuh. Nah loh! Apa iya orang yang pacaran gak pandang-pandangan? Gak pegang-pegangan?
"Gak kok, kita kan
LDR, Long Distance Relationship. Paling cuma sms-an dan telp-an aja".
Walah, walah, masih berani ngelanggar toh? Masih berani jawab yo?
Walah, walah, masih berani ngelanggar toh? Masih berani jawab yo?
Nih Allah lagi yang ngomong
langsung,
"Wahai istri-istri nabi!
Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka
janganlah kamu tunduk (melemah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga
bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah
perkataan yang baik". (QS. Al-Ahzab (33) :32)
Suara wanita adalah aurat, apa
iya kalau telp-telp-an sama pacar (yang katanya LDR) suaranya gak di
lebay-lebay-in? Gak di manja-manjain? Ingat-ingat, ting! Wanita dan laki-laki
itu ibarat kutub magnet yang saling tarik menarik. Ditambah lagi daya fantasi
laki-laki yang begitu tinggi. Ingat lagi, zina-nya hati itu berangan-angan.
SubhanAllah, bener deh pacaran itu gak ada bagus-bagusnya. Rugi semua, cuma
menanam dosa. Pacaran, ya kalau cocok lanjut, kalau gak.... cari lagi! Aeeh,
emang mau jadi barang bekas yang sudah tak berharga??? Gak kan? Semua manusia
hakikatnya ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, baik wanita maupun
laki-laki.
Tapi gimana caranya? Jaga diri baik-baik, jangan pacaran!
Terus gimana bisa nikah kalau
gak pacaran? Tenang, islam punya solusinya. Ta'aruf. Sebuah proses perkenalan
yang sesuai hukum syara'.
Ikhwah, jangan nakal ya!
Syari'at tetap syari'at, jangan dibantah lagi! Ditegaskan sekali lagi, Ta'aruf
berbeda jaaaaauuuh sekali dengan pacaran.
"Iya, saya gak pacaran kok. Saya
sedang ta'aruf sama ukhti A".
Gak pacaran sih, tapi kok ta'aruf smsn?
Telp-an?
"Ta'aruf kan masa perkenalan, toh saya berhubungan sama dia
karena hal-hal yang penting.?" Memang sepenting apa? "
"Ya tanya kabar
aja, ingatin puasa sunnah, shalat sunnah, untuk saling mengingatkan dalam
kebaikan". Aduh, aduh... Sudah-sudah. Nggak akan ada habisnya kalau terus
menerus mencari alasan. Masih Ta’aruf loh, belum siapa-siapamu. Kamu ya
kamu, dia ya dia. Kalau kata nasyid In team, sebelum di ijab kabulkan syariat
tetap membataskan. Jadi intinya, tidak ada hubungan intens sebelum pernikahan.
Boleh sih sms-an, asal sudah melalui tahap ta’aruf dan sudah meminang
(khitbah). Itu pun untuk keperluan tertentu saja, yang dirasa penting seperti
membicarakan persiapan pernikahan, konsep pernikahan dan untuk lebih saling mengenal.
Bagaimana sih biasanya tata cara
ta’aruf dalam islam?
Ada berbagai cara.
Ada yang melalui perantara dan
tidak.
Taaruf melalui perantara adalah
taaruf yang biasanya diperantarai murobbi kedua belah pihak. Diawali dengan
mulai bertukar CV, proses ta’aruf yang didampingi oleh murobbi kedua belah
pihak dan dilanjutkan khitbah dengan menemui kedua orang tua wanita lalu
menikah.
Taaruf tanpa perantara, apabila
seorang laki-laki telah merasa cocok dengan seorang wanita dan meminta langsung
kepada wali si wanita yang disukainya tersebut. Dilanjutkan dengan khitbah dan
menikah (itupun kalau disetujui orang tua wanita dan si wanita tidak menolak
ya.. hehe).
Sehingga dalam proses ta’aruf
untuk menikah sekalipun islam sangat-sangat menjaga batas antara laki-laki dan
wanita. Karena, selama janur kuning belum melengkung, semua masih haram.
Sekian dulu ikhwah, lain kali
disambung dengan bahasan selanjutnya. Jazakumullahu khairon katsiiron. (Jangan Pacaran yo!, hehe)
Wassalamu’alaikum wr wb.
Kamis, 16 Februari 2012
SAJAK-SAJAK KEHIDUPAN
PUTIH-BIRU dan ABU pun MENANGIS
(sajak untuk pelajar sex bebas)
Jika TUHAN berikan sepasang mata, mungkin mata kami tlah sembab…
Jika TUHAN izikan bersua, mungkin kami telah berteriak…
Jika TUHAN titipkan sepasang kaki, mungkin kami tlah berlari…
Tapi kami hanya selembar kain…
Kami menjadi saksi bisu perbuatan nistamu…
Kami tatap kehinaanmu layak binatang..
Kami tersakiti saat kau diamuk sejuta emosi…
Kau yang kotori kami dengan sebercak darah…
Kau jadikan kami pembungkus AIB mu, pembungkus ZINAmu…
Tidakkah kau malu pada TUHANmu?
Tidakkah kau merasa bagai binatang yang tak beradab?
Tidakkah kau ingat akan azabNya kelak?
Mengapa kau begitu menghinakan dirimu?
Bakarlah kami, robeklah kami atau buanglah kami….
Sungguh kami tak ingin di nodai lagi..
AYAH.. IBU.. BIARKAN AKU MELIHAT MENTARI.
(sajak anak-anak aborsi)
Ayah, Ibu .. Mataku terpejam dan masih terpejam.
Ayah, lindungi aku dengan sahajamu..
Ibu, dekap aku dalam lembut jemarimu..
Ayah.. Ibu.. Mengapa tak kalian lakukan pintaku?
Ayah.. Ibu.. Katakan apa salahku?
Ayah.. Ibu.. Apa kalian enggan dengar tangisku?
Saat pertama ku tatap kalian?
Ayah.. Ibu.. Maafkan jika aku salah..
Walau aku tak pernah mengerti apa kesalahanku?
Ayah.. Ibu.. Mengapa kalian tega hentikan denyut nadiku?
Ayah.. Ibu.. Dimanakah Iba kalian saat jantungku berhenti berdegup..
Ayah.. Ibu.. Aku ingin melihat mentari..
Dosakah keberadaanku?
Mengapa aku pula yang harus menanggungnya?
Ayah.. Ibu.. Aku hanya ingin melihat mentari bersama kalian…
AYAH, IBU HARUSKAH AKAU TEMUI KALIAN SECEPAT INI?
(sajak anak-anak penderita HIV Aids)
Ayah, Ibu.. Mengapa tubhku sakit?
Sedangkan makanan sehat dan vitamin teratur ku makan.
Ayah, Ibu.. Mengapa tubuhku lemah?
Sedangkan setiap subuh ku ajari kakiku untuk berlari…
Ayah, Ibu.. Mengapa mereka menangis melihatku?
Bukankah aku yang seharusnya menangis?
Karena aku tak dapat lagi melihat kalian?
Ayah, ibu.. Apa ini dosaku? Ataukah dosa kalian?
Ayah, ibu.. Aku takut, walau aku rindu kalian..
Ayah, ibu.. Haruskah ku temui kalian secepat ini?
Tak apalah, jika harus begitu, aku pun rindu belaian kalian..
Ayah. Dimanakah kita dapat berkumpul kelak?
Surgakah? Atau Neraka?
*Catatan terakhir sang mahasiswa* (Demonstrasi berdarah)
Riuh gemuruh semangat jiwa meramaikan pusat kota...
Meelu-elukan hak tiap raga yang terlupa..
Terkikis sudah terik mentari.
Bergelora penuh asa dalam satu tujuan...
Keadilan..!!!
Keadilan...!!!
Teriakan semakin tumpah riuh di pelataran ibu kota..
Teriakan ironis menyayat hati, besi panas menerobos selembar kulit tipisnya.
Jatuh dalam pilu yang tak terbayar.
Sang mahasiswa dalam pesakitan jiwa dan raga..
Darah segar mengucur dengan derasnya..
Sang mahasiswa tergeletak tanpa gerak, tersenyum sendu menghadap Tuhan..
Meelu-elukan hak tiap raga yang terlupa..
Terkikis sudah terik mentari.
Bergelora penuh asa dalam satu tujuan...
Keadilan..!!!
Keadilan...!!!
Teriakan semakin tumpah riuh di pelataran ibu kota..
Teriakan ironis menyayat hati, besi panas menerobos selembar kulit tipisnya.
Jatuh dalam pilu yang tak terbayar.
Sang mahasiswa dalam pesakitan jiwa dan raga..
Darah segar mengucur dengan derasnya..
Sang mahasiswa tergeletak tanpa gerak, tersenyum sendu menghadap Tuhan..
*Sajak pesan untuk para petinggi negri.*
Tikus-tikus kecil berlari dengan riangnya...
Bergerak lincah dalam ruang terbatas...
Menggerogoti tiap sudut yang bersilau...
Berlindung dalam satu kuasa ketidakadilan...
Akankah bumi pertiwi terus berduka...
Dalam tindak serakah para tikus2 negara?
Akhh...
Indonesia kau sungguh pilu...
Dengarlah jerit para pesakitan sejenak....
Dan hentikan durhakamu...
Tuhan kan punya balasan...
Ingatlah hidup hanya titian..
Bergerak lincah dalam ruang terbatas...
Menggerogoti tiap sudut yang bersilau...
Berlindung dalam satu kuasa ketidakadilan...
Akankah bumi pertiwi terus berduka...
Dalam tindak serakah para tikus2 negara?
Akhh...
Indonesia kau sungguh pilu...
Dengarlah jerit para pesakitan sejenak....
Dan hentikan durhakamu...
Tuhan kan punya balasan...
Ingatlah hidup hanya titian..
*Sajak Duka Kala Senja*
Deru klakson membahana membelah kesunyian sore...
Bising syair para pengamen jalan meramaikan sudut kota...
Pucat pasi wajah lelaki tua...
Menengadahkan separuh harga diri untuk sesuap nasi...
Bumi tetap bisu menjadi saksi kebinatangan sang makhluk sempurna...
Tak ubahnya langit pun menatap pilu penuh kehampaan...
*Sajak Petani Tua Tanpa Pesan.*
Peluh pagi anak sang mentari.
Mengikis waktu dlm tawa ringkih.
Panas menyengat tubuh yg legam.
Tangan menjadi satu tumpuan..
Petani tua tetap diam dalam lelah.
Menatap nanar nasib dalam tindas kekuasaan.
Petani tua tetap diam tanpa daya dan berkerja tanpa asa.
Jumat, 27 Januari 2012
Puisi cinta "Jalaludin Rumi".
KUMPULAN PUISI CINTA JALALUDIN RUMI
Jalaludin Rumi atau nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri adalah sang pujangga dari tanah Persia. Selain penyair dia juga tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya dia lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya (Turki).
Gambar Sufi Terkemuka jalaludin Rumi
Jalaluddin Rumi, ia mengekspresikannya tulisannya dalam bahasa cinta yang syarat makna. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Berikut kumpulan puisi atau syair Jalaludin Rumi tentang Cinta :KERANA CINTA
Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan
KEARIFAN CINTA
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
CINTA
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya.
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya,
Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai,
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta
yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan
dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
CINTA : LAUTAN TAK BERTEPI
Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah
Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah
lagu pujian Keagungan pada Tuhan.
PERIH CINTA
Perih Cinta inilah yang membuka tabir hasrat pencinta:
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita hati ini.
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.
Apakah dari jamur langit ataupun jamur bumi,
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada akhirnya.
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk menerangkan Cinta,
Bagai keledai dalam lumpur: Cinta adalah sang penerang Cinta itu sendiri.
Bukankah matahari yang menyatakan dirinya matahari?
Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari ada di sana.
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita hati ini.
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.
Apakah dari jamur langit ataupun jamur bumi,
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada akhirnya.
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk menerangkan Cinta,
Bagai keledai dalam lumpur: Cinta adalah sang penerang Cinta itu sendiri.
Bukankah matahari yang menyatakan dirinya matahari?
Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari ada di sana.
PERNYATAAN CINTA
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.
TANPA CINTA, SEGALANYA TAK BERNILAI
Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi
Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan
Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ?
Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati
adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan :
“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
By: Jalaludin Rumi
Langganan:
Postingan (Atom)

